PERISTIWA PPN 

Catatan Penting dari PPN Aceh

Diawali jamuan makan malam di Pendopo Gubernur Aceh, para penyair Nusantara dibawa untuk mengikuti pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Istana Wali Nangroe Aceh. Momen terpenting pada acara ini adalah sambutan Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, yang menyinggung soal fasilitasi bantuan dana acara kesastraan.

Setelah membuka acara dengan pemukulan Rapai, didampingi Wali Syura Istana Wali Nangroe Aceh Prof. Dr. H. Syahrizal Abbas MA, Mendikdasmen menyampaikan peluang fasilitasi penting itu: “bantuan dana” bagi kegiatan-kegiatan kesastraan, termasuk PPN, akan ditambah. Untuk PPN XIV Aceh, misalnya, Prof. Mu’ti menjanjikan bantuan dana yang cukup. “Kalau kekurangan dana, sampaikan pada saya,” katanya.

Para penyair Nusantara pun menyambutnya dengan tepuk tangan meriah. Istana Wali Nangroe Aceh bergemuruh seketika.
Mendikdasmen sangat mengapresiasi kerja keras Panitia yang diketuai oleh Noviati Maulida Rahma, dalam menyiapkan acara ini. “Terimakasih Mbak Novi yang telah menyiapkan kegiatan ini. Saya bisa membayangkan bagaimana letihnya Mbak Novi mempertemukan sastrawan dunia di dalam perhelatan ini,” katanya.

Prof. Mu’ti juga mengapresiasi Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat intelektualitas, kebudayaan, dan sastra Melayu Nusantara. “PPN ini bukan hanya pertemuan penyair, tetapi juga pertemuan gagasan, nilai, dan harapan bersama, untuk menjembatani masalah-masalah kemanusiaan. Sastra mampu menjembatani perbedaan bahasa, budaya, daerah, bahkan negara,” ujarnya.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan budaya instan, sastra memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, puisi tidak sekadar karya estetis, melainkan ruang refleksi moral dan sosial yang mampu membangun empati serta kepekaan manusia. “Para penyair memiliki kekuatan kata-kata yang mampu menggerakkan dan menginspirasi. Di tengah ruang publik yang sering dipenuhi ujaran negatif, penyair hadir sebagai penjernih nurani melalui kata-kata bijak,” katanya.

Prof. Mu’ti sempat bercerita, bahwa sejak muda ia menyukai puisi, berteman dengan penyair Gunoto Saparie, dan menyukai puisi-puisi Ahmadun Yosi Herfanda. “Saya suka membaca puisi-puisinya yang dimuat di Harian Republika,” katanya. Ia menekankan pentingnya memperluas ruang-ruang sastra, termasuk melalui media digital, agar generasi muda semakin dekat dengan literasi dan karya sastra.

Asisten I Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya PPN XIV di Aceh. Ia menegaskan bahwa Aceh sejak dahulu dikenal sebagai pusat peradaban Islam, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan sastra Melayu di kawasan Nusantara. “Sastra telah hidup bersama perjalanan sejarah Aceh selama ratusan tahun. Dari bumi Aceh lahir tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, hingga Abdur Rauf As-Singkili yang mewarnai perkembangan intelektual dunia Melayu,” ungkapnya.

Direktur Pelaksana PPN XIV, Noviati Maulida Rahma dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja kolaboratif komunitas sastra di Aceh. Ia menyebutkan sebanyak 542 pendaftar dari berbagai negara mengirimkan 1.018 karya puisi dalam proses kurasi, namun panitia hanya mampu menampung sekitar 200 peserta.

Dari Diksi ke Aksi
Kegiatan PPN XIV berlangsung selama 22 hingga 28 Juni 2026, dengan tema “Dari Diksi Menjadi Aksi”, dan dilaksanakan di beberapa wilayah di Aceh, termasuk Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan Aceh Tengah. Menurut Noviati, PPN XIV menghadirkan konsep berbeda dengan melibatkan lintas cabang seni seperti seni rupa, film, musik, dan tari. “Kegiatan ini bukan hanya tentang membaca puisi, tetapi juga membangun jejaring, kolaborasi, dan penghormatan terhadap para penyair sebagai bagian penting dari peradaban,” katanya.

Acara pembukaan juga dihadiri unsur pemerintah daerah dan pimpinan perguruan tinggi, seperti Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI), Institut Agama Islam (IAI) Almuslim, dan Universitas Bina Bangsa Getsempena Aceh. Turut hadir pula para pejabat pusat dan daerah, antara lain Kepala Badan Bahasa, utusan Perpusnas RI, Sekretaris Menteri Kemendiktisaintek, Staf Khusus Menteri Kebudayaan, pimpinan DPRA, para kepala daerah, para pelaku seni dan budaya serta tamu undangan lainnya.

Tidak banyak penyair yang mendapat kesempatan membaca puisi pada acara pembukaan. Hanya dua penyair, yakni Imam Ma’arif dari Jakarta, Bara Patty Raja dari Nusa Tenggara Timur, dan Sekretaris Menteri Kemdiktisaintek Ir. Suharti, Ph.D. Selebihnya diisi tari Saman yang elok dan deretan sambutan. Tata panggung yang digarap oleh Teuku Afifudin memberi kesan yang spektakuler.

Sebelumnya, pada soft launching PPN XIV di Gedung M. Tabrani Badan Bahasa, Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa forum seperti PPN menjadi ruang penting untuk menumbuhkan ruang kolaborasi, kreativitas, dan semangat berkarya yang tumbuh dari semangat juang para penyair. Sebab, ia menilai pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem sastra.

“Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci dalam mewujudkan dan meningkatkan ekosistem sastra di Indonesia. Bahasa dan sastra merupakan satu kesatuan. Melalui bahasa kita menyampaikan makna secara cerdas, dan melalui sastra kita mengolahnya menjadi karya kreatif, termasuk sebagai medium kritik sosial dan penyampaian gagasan serta harapan,” ujarnya.

Pada soft launcing, mandataris PPN Ahmadun Yosi Herfanda menyampaikan bahwa tujuan utama PPN adalah mempererat kerja sama dan persaudaraan antarpenyair senusantara. “Karena itulah kita selalu mengusung tema persaudaraan dan perdamain. Melalui puisi kita menguatkan rasa bersaudara. Biarlah orang lain memilih perang dan kekerasan untuk menyelesaikan sengketa, tapi kita lebih memilih cara-cara yang damai dan bersaudara,” ujarnya. “Puisi kita jadikan sarana untuk menyuarakan semangat perdamaian dan persaudaraan itu.”

Terlama dan terjauh
Keesokan harinya, para penyair dibawa dengan tujuh bus dari Banda Aceh ke Takengon, melewati jalan berliku yang melintasi bukit-bukit terjal dan jembatan-jembatan ambrol. Dalam catatan, PPN IV Aceh adalah PPN yang terjauh, terlama waktunya, terbanyak venunya, termegah tata panggungnya, terbanyak hotelnya, terseram perjalanan daratnya, dan terbanyak minum kopinya. PPN ini berlangsung delapan hari. PPN sebelumnya rata-rata berlangsung empat hari.

Dari Banda Aceh (sekretariat panitia) ke Takengon (venu terjauh) dibutuhkan waktu sekitar delapan jam, karena jauhnya, dan bus-bus harus turun ke sungai beberapa kali, naik lagi, melewati jalan berbatu, dan lereng-lereng bekas longsor. Jalan beraspalnya tinggal selebar sekitar tiga meter, separuh jalannya longsor dan menyisakan jurang yang menganga.

Ada jembatan darurat yang dibangun TNI, tapi hanya bisa dilewati kendaraan kecil dan harus gantian. Saat menuju Takengon, bus-bus peserta melewati itu semua pada malam hari, sehingga terasa seram. Apalagi, badan jalan yang tinggal separuh itu tanpa pengaman. “Wah, kalau sopirnya lengah, bisa masuk jurang,” komentar seorang penyair.

Setelah menempuh perjalanan berliku dengan melintasi jembatan-jembatan yang ambrol, para penyair mendapat hadiah pemandangan danau Lut Tawar yang indah. Perjalanan jauh selama sekitar delapan jam dari Banda Aceh ke Takengon terasa terbayar oleh kenyamanan hotel di tepi danau, Portola Grand Penggali Hotel. Tiap bangun tidur para penyair bisa menikmati pemandangan danau yang luas, dengan air hijau kebiruan, berdenyar-denyar ditimpa cahaya matahari.

Kabut yang menutup sebagian danau, membuat para penyair serasa mengapung di atas awan. Berjalan-jalan di tepi danau pada dini hari, ibarat menyerap energi kreatif yang mengendap menjadi puisi. Apalagi di salah satu lereng danau, di kejauhan, masih tampak bekas longsor yang mengubur satu kampung. “Rumah keluarga saya di sana. Makam kaluarga juga tergusur dan sulit ditemukan,” kata Iwan, anggota panitia.

Pemandangan danau Lut Tawar merupakan satu pesona dari serangkaian destinasi dan venu PPN IV Aceh. Masih di Takengon, di ketinggian Puncak Bur Telege, diskusi dan baca puisi digelar. Sambil mengikuti gelar wicara, para penyair bisa menikmati pemandangan Lut Tawar yang seakan dihamparkan di bawah Bur Telege, menjadi latar tempat diskusi dan baca puisi yang indah.

Venu itu ditata semacam teater arena dengan panggung di bawah, dan hadirin ada pada posisi lebih tinggi. Gelar wicara ini membahas Peran Sastra Kreatif Nusantara dengan pembicara Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, Presiden PENA Dr. Moh. Saleeh Rahamad, dan sastrawan Gayo Dr. Salman Yoga, dengan moderator Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh Mohammad Irsan.

Sehabis mengikuti gelar wicara di puncak Bur Telege, para penyair diajak turun ke Sungai, ke Temas River Park, untuk mengikuti sarasehan Masa Depan Sastra Lisan Nusantara dan parade baca puisi. Diawali sambutan oleh Sekretaris Badan Bahasa Dr. Ganjar Harimansyah, tampil sebagai pembicara, Dr. Norhayati Abd. Rahman dari PENA Malaysia, dan Ceh M. Din, penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 dari Takengon.

Menjelang magrib, para penyair diajak ke Galeri Kopi Indonesia untuk menikmati parade baca puisi dan music sambil minum kopi serta makan malam. Tampil, antara lain LK Ara, Gunoto Saparie, Afrion Medan, Rissa Curia, Nunung Nor L, Yantho, Riance Jauskal, dan sejumlah penyair Malaysia serta Indonesia.

Hari selanjutnya masih di Takengon, ada jamuan makan malam bersama bupati Aceh Tengah. Di halaman rumah dinas Bupati, panggung telah disiapkan. Panitia disambut dengan pengalungan syal bermotif Gayo, dan tarian Manulo. Begitu tarian selesai, para penyair dan tamu undangan mendapat hidangan makan malam sambil menyaksikan pertunjukan Didong. Diawali penampilan Salman Yoga menceritakan keunikan seni Didong, yang menampilkan Ceh M. Din sebagai pimpinan grup Didong setempat. Beberapa penyair membaca puisi di sela-sela pertunjukan Didong.

Keesokan harinya, peserta diajak transit ke Bireuen, melewati pebukitan, tepi jurang, dan jembatan darurat yang sama. Karena siang hari, peserta bisa menikmati pemanadangan pebukitan dengan kebun-kebun kopi dan deretan kebun pinang yang menakjubkan. Sedang pada sisi yang berbeda, terbentang sungai yang dalam dan jurang yang menganga.
Di Bireuen, para penyair mengisi panggung sarasehan dan baca puisi di Institut Agama Islam (IAI) Almuslim Aceh di Gampong Paya Lipah, Bireuen. Sebagai pembicara Syeh Mulyadi dan Teuku Afifudin, membahas warisan sastra klasik dan masa depan kebudayaan. Tampil cukup banyak penyair dari berbagai daerah mengisi waktu kosong. Antara lain, Ramayani Riance, dan Putra Gara.

Malamnya, rombongan penyair transit di hotel Bireuen Jaya Syariah yang berlokasi di tengah keramaian, dan para penyair bebas jalan-jalan serta nongkrong di warung kopi, menikmati suasana.

Esoknya para penyair kembali ke Banda Aceh, dan mampir mengisi panggung kesenian di Institut Seni Budaya Indomesia (ISBI). Hujan yang cukup deras tak mengurangi semangat para penyair. Sosiawan Leak, Ganjar Harimansjah, dan Wayan Jengki Sunarta menghangatkan suasana dengan talkswow proses kreatif puisi menjadi seni pertunjukan, terutama musikalisasi puisi. Sejumlah penyair sempat mengisi acara dengan baca puisi.

Malam itu para penyair diinapkan di Hotel Diana untuk mengikuti acara penutupan Taman Sari Gunongan keesokan malamnya. Di seberang hotel ada kafe kopi yang luas. Ketimbang tidur, para penyair memilih ngopi sambil bercengkerama dan membahas apa saja yang dianggap menarik. Gerimis membasahi malam yang dingin.

Taman Sari Gunongan adalah cagar budaya bersejarah yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17 sebagai simbol cinta untuk permaisurinya, Putroe Phang (Putri Kamaliah dari Kerajaan Pahang, Malaysia). Kompleks ini berfungsi sebagai tempat pemandian dan taman rekreasi bagi keluarga kerajaan.

Di Gunongan itu acara PPN XIV ditutup oleh Menteri Kebudayaan Dr. Fadli Zon, yang diwakili oleh Staf Ahli Hubungan Antarlembaga Prof. Dr. Ismunandar, pada Minggu 28 Juni 2026. Dalam sambutannya, Ismunandar mengapresiasi penyelenggaraan PPN yang dinilainya berlangsung dengan baik dan mendapat sambutan baik dari peserta dan Masyarakat. “PPN menjadi momentum penting dalam mentranmisikan nilai-nilai budaya dan tradisi kepenyairan kepada generasi muda,” katanya.

Gubernur Aceh yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Murthalamuddin juga mengatakan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun karakter, identitas, dan peradaban bangsa. Murthalamuddin menyampaikan apesiasi kepada seluruh penyair, budayawan, akademisi, pemerhati sastra, serta delegasi dari berbagai negara yang telah hadir dan menjadikan Aceh sebagai ruang perjumpaan budaya selama sepekan. “PPN IV bukan sekadar forum pembacaan puisi, tapi menjadi ruang dialog kebudayaan, pertukaran gagasan, kunjungan sejarah, serta mempererat hubungan antarmanusia lintas bangsa.

Menyampaikan sambutan pula pada penutupan, antara lain Kepala Balai Bahasa Aceh Muhammad Irsan, dan mandataris PPN Ahmadun Yosi Herfanda. Ia memuji pertunjukan musikalisasi puisi komunitas BATAS yang begitu kompak dan menarik, serta pertujukan monolog “Hikayat Ringkih” oleh Cut Azalea Syadza yang begitu mengesankan dan diangkat dari persoalan kemanusiaan setempat. “Penulis, penyair, perlu dihadapkan pada realitas yang sebenarnya, sehingga karya-karyanya bukan sekadar imajinasi. Kita berharap diksi-diksi yang bertebaran salama PPN bisa berubah menjadi aksi,” katanya.

Gunongan bisa disulap menjadi latar pertunjukan dengan tata lampu dan panggung yang mewah dan spektakuler. Menuju arena pertunjukan, sejarah PPN dari I-XIII, masing-masing ditulis di baliho, dan dipajang di latar depan. Tampil membaca puisi pada malam penutupan, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, Sosiawan Leak, Wayan Jengki Sunarta, Khoirul Anwar, dan Nuyang Jaimee.

Sebelum acara berakhir, Direktur Pelaksana Novie Maulida Rahma mengumumkan bahwa PPN V akan diadakan di Brunei Darussalam tahun 2027. Keputusan ini merupakan hasil musyawarah PPN di Universitas Bina Bangsa Getsempena Aceh, yang diikuti para mandataris PPN dari lima negara. Wakil dari Brunei Darussalam, Ampuan Dr. Haji Brahim, yang juga ketua I Asterawani, menerima keputusan itu. Maka, sampai jumpa di Bandar Seribegawan tahun 2027 untuk menguatkan kembali semangat perdamaian dan persaudaraan antarbangsa senusantara melalui puisi. @ Red. Dari berbagai sumber.

Related posts

Leave a Comment

two × 4 =